setelah sekian lama, ingin menulis kembali..semoga ada waktuku untuk mengadu jari-jemari dengan keyboard kembali, dan mengalirlah kata demi kata.
new year 2010, new resolutions.
~kuku1,kuku2,cipa
setelah sekian lama, ingin menulis kembali..semoga ada waktuku untuk mengadu jari-jemari dengan keyboard kembali, dan mengalirlah kata demi kata.
new year 2010, new resolutions.
~kuku1,kuku2,cipa
buat yang kemaren-kemaren gak pernah nongol berbuat apa-apa, jangan tiba-tiba muncul deh…
ga butuh pahlawan kesiangan.
hidup memang adalah perbuatan..tapi bukan perbuatan anda, melainkan perbuatan orang lain…
dan anda tidak ada hubungannya dengan mereka yang berbuat…menjijikkan.
Hapuskan subsidi BBM sekarang juga!!!
Subsidi BBM buat pendidikan dan kesehatan….SEKARANG
udah dari jaman baheula ratusan triliun rupiah menguap menjadi asap melalui subsidi, subsidi yang menyesatkan, memanjakan, dan memalaskan.
seiring naiknya harga minyak mentah dunia menjadi seratusan dolar per-barel, maka beban negeri ini semakin berat, seiring pula ketidakadilan pembagian ‘kue’ APBN.
Masak iya, ‘kue’ untuk pendidikan dan rumah sakit jauuuh lebih kecil dari ‘kue’ subsidi?, ngaco banget deh. Baca deh Koran Tempo 07/05/2008.
Jadi, waktunya hapus tuh subsidi, jadikan harga BBM sesuai dengan nilainya (yang tentunya harus lebih mahal dari harga air mineral).
anjing-anjing boleh berteriak tolak kenaikan harga bbm, karena hanya sampai situlah otaknya bisa berpikir, bagaimana mengamankan kepentingan sendiri tanpa memikirkan orang lain.
jadi, para manusia…hapus subsidi BBM….sekarang!!
mungkin ada yang bertanya-tanya, apa itu yah social climber ?…menurut Wikipedia:
A social climber is someone who seeks social prominence by obsequious behavior.
hmm..mungkin ada pertanyaan lanjutan, kalo’ obsequious itu apa dong?
The word “obsequious” is used to describe someone who is almost pathetically eager to follow, obey, and serve. It is often used in a pejorative way, suggesting that someone has rather slavish tendencies which are obnoxious and sometimes embarrassing. Most people make an effort to avoid being obsequious, finding ways to express compliance which are more subtle and less intense than obsequiousness, although in some cultures this servile attitude is considered socially acceptable
Many people associate excessive flattering, fawning, and bootlicking with modern day obsequiousness. The implication is that someone is abasing him or herself to please someone else, and in many cultures people who tolerate obsequious behavior are also viewed negatively. Rather than simply being polite, submissive, and happy to serve, someone who is obsequious crosses the line, demonstrating behavior which can be distasteful in its intensity.
(http://www.wisegeek.com/what-does-obsequious-mean.htm)
whoaa…prilaku ini ternyata biasa terjadi di kantor-kantor atau mungkin di rumah-rumah…nah, apakah anda seorang social climber ?…jangan dong…begaul biasa aja..ok!
And the sun will set for you
The sun will set for you.
And the shadow of the day,
Will embrace the world in gray,
And the sun will set for you…
In cards and flowers on your window,
Your friends all plead for you to stay.
Sometimes beginnings aren’t so simple.
Sometimes goodbye’s the only way, oh.
And the sun will set for you,
The sun will set for you.
And the shadow of the day,
Will embrace the world in gray,
And the sun will set for you.
And the shadow of the day,
Will embrace the world in gray,
And the sun will set for you.
And the shadow of the day,
Will embrace the world in gray,
And the sun will set for you.![]()
dearest…semoga perjalananmu lancar, langkahmu mantap, urusanmu mudah, dan Allah SWT melindungimu dalam perjalananmu.
dan bila tugas telah lunas, kembalilah disini, bersamaku, azra, dan shifa…dan pitik cengcorong
-i love you-
Berdasarkan sensus tahun 2000, jumlah penduduk negeri ini telah 206, 264, 595 jiwa (http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=189), pada suatu acara tivi, jumlah penduduk terakhir sudah hampir 230juta..seraam…
lucunya, jika dalam sensus2 terdahulu, rasio jumlah perempuan selalu lebih banyak daripada laki-laki, maka semakin terkini data sensus, hasilnya menunjukkan sebaliknya, bahwa semakin banyak jumlah laki-laki daripada perempuan (49.9% perempuan).
ternyata, bukan hanya jumlahnya yang menurun, berbagai hal mendera kaum yang menjadi pendamping kaum adam ini. mulai dari 50% yang menderita anemia, kematian ibu hamil, sampai pada kurangnya apresiasi orangtua untuk menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
hasilnya semakin nyata terlihat, rasio jumlah pekerja perempuan di sektor profesional dan bisnis masih dibawah pria. Menyedihkan melihat fakta misalnya hanya ada satu atau dua perempuan diantara sekian banyak laki-laki dalam satu tim kerja, atau jika dalam suatu perjalanan dinas hanya ada satu perempuan dikelilingi sekian rekan kerja laki-laki.
mungkin inilah saatnya untuk melakukan penyetaraan secara utuh, berikan pendidikan seimbang untuk putera-puteri kita, agar pada generasi setelah ini, tidak lagi ada ketimpangan.
Oh ya, berbicara soal penyetaraan utuh, mungkin juga harus dikurangi kebiasaan mengadakan ‘ladies parking’ di mal-mal, kalau arahnya penyetaraan, maka hentikan pengistimewaan.
Pagi ini dalam perjalanan ke kantor, ada berita demo 500 kepala desa di Aceh menuntut dipercepatnya pembentukan provinsi Aceh Leuser Antara (http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/17/1/92204/5-aksi-demo-di-jakarta-awas-macet) …. tapi, apa bedanya dengan demo-demo lainnya?, mungkin kalau dilanjutkan kalimatnya, bahwa para kepala desa yang mengikuti demo itu mengancam akan mengembalikan surat tugasnya ke pemerintah jika tuntutannya tidak dipenuhi… nah lo…
atau jika melihat demo supir yang mengancam akan mogok jika tuntutannya tidak dipenuhi, atau demo lainnya yang hampir selalu disertai ancaman.
hei..apakah negeri ini akan selalu seperti ini?, ketika yang banyak yang menang?, ketika berbicara bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi, vox dei)..bullshit!. Yang benar itu dari Tuhan, selama Qur’an Hadis bilang benar, maka benarlah artinya.
sejak kapan semua keinginan dan tuntutan kita harus selalu tercapai?, bukankah kita diajarkan untuk sabar dan ikhlas.
mungkin ini bisa menjadi momentum, untuk mengurangi jumlah penduduk negeri ini, caranya dengan melakukan pembantaian massal para pendemo pemaksa ini, tokh hidupnya tidak berguna bagi orang banyak.
mungkin ada yang baru tau, kalo’ 41 perguruan tinggi memboikot pelaksanaan SPMB dengan cara keluar dari sistem penerimaan SPMB. Mereka berencana membuat sistematika rekruitment sendiri. Setahu gw, rekruitmen sendiri seperti itu berarti:
1. Biaya pendaftaran mahasiswa akan dibebaskan sesuai keputusan masing-masing universitas.
2. Kalau ingin mendaftar lebih dari satu universitas, maka kudu datengin satu-satu universitas tersebut, trus daftar, dan tes.
Apa artinya:
1. biaya pendaftaran universitas akan semau universitasnya (semau gue, kata orang). Dan yang terjadi adalah komersialisasi pendidikan. padahal hal itu bertentangan dengan visi negara untuk mencerdaskan warga negaranya.
2. untuk calon mahasiswa yang miskin, akan kesulitan dalam proses pendaftaran. belum lagi jika ingin mendaftar di beberapa universitas yang jaraknya berjauhan, bagaimana ongkosnya dll.
3. akan ada kesulitan dalam mengatur jadwal, karena kemungkinan akan ada jadwal yang bentrok.
Sebenarnya, masalahnya adalah dalam SOP SPMB itu sendiri, yang seharusnya, jika para rektor itu bijak, yang diperbaiki adalah sistemnya, bukan keluar dari sistem itu sendiri. Atau mungkin ada kecenderungan ingin menguasai uang pendaftaran itu sendiri, karena dengan melalui SPMB, maka universitas tidak mendapatkan bagi hasil atas uang pendaftaran tersebut sesuai porsi yang mereka harapkan.
Padahal, dengan ujian tersentralisir, maka akan diperoleh standar mutu pendidikan melalui standar ujian sehingga semua mahasiswa yang telah lulus SPMB memiliki standar kemampuan yang sama di seluruh Indonesia. Jangan sampai ada calon mahasiswa yang ‘tidak layak naik dari siswa menjadi mahasiswa’, tapi diterima sebagai mahasiswa.
Ujian Ebtanas atau yang sekarang UAN saja sudah cukup sebagai bukti penurunan kualitas kelulusan, mengingat jumlah pelajaran yang diujikan menciut jauh dibandingkan sebelumnya. Dengan UAN yang sudah ciut saja masih ada yang protes kok, minta standar kelulusan diturunkan. Apakabar peningkatan mutu pendidikan kalau begini?
Nah, cukup faktanya, sekarang masuk ke bagian opini.
Dengan keluar dari SPMB, gue mau bilang kalau para rektor itu ternyata tidak cukup bijak, mengorbankan calon mahasiswa demi penguasaan uang hasil pendaftaran.
Dengan keluar dari SPMB juga, berarti masing-masing universitas akan menerima mahasiswa semau-maunya, dengan standar ujian yang berbeda-beda, sehingga bukannya maju ke penyetaraan kemampuan mahasiswa diseluruh Indonesia, malah mundur ke jaman batu..sama kayak SD, SMP, atau SMA.