the BiTTer and SwEEt of Me
tarian jari-jemari diatas tuts keyboard…

aksi memboikot SPMB (Koran Tempo, 13/03/08)

mungkin ada yang baru tau, kalo’ 41 perguruan tinggi memboikot pelaksanaan SPMB dengan cara keluar dari sistem penerimaan SPMB. Mereka berencana membuat sistematika rekruitment sendiri. Setahu gw, rekruitmen sendiri seperti itu berarti:

1. Biaya pendaftaran mahasiswa akan dibebaskan sesuai keputusan masing-masing universitas.
2. Kalau ingin mendaftar lebih dari satu universitas, maka kudu datengin satu-satu universitas tersebut, trus daftar, dan tes.

Apa artinya:

1. biaya pendaftaran universitas akan semau universitasnya (semau gue, kata orang). Dan yang terjadi adalah komersialisasi pendidikan. padahal hal itu bertentangan dengan visi negara untuk mencerdaskan warga negaranya.

2. untuk calon mahasiswa yang miskin, akan kesulitan dalam proses pendaftaran. belum lagi jika ingin mendaftar di beberapa universitas yang jaraknya berjauhan, bagaimana ongkosnya dll.

3. akan ada kesulitan dalam mengatur jadwal, karena kemungkinan akan ada jadwal yang bentrok.

Sebenarnya, masalahnya adalah dalam SOP SPMB itu sendiri, yang seharusnya, jika para rektor itu bijak, yang diperbaiki adalah sistemnya, bukan keluar dari sistem itu sendiri. Atau mungkin ada kecenderungan ingin menguasai uang pendaftaran itu sendiri, karena dengan melalui SPMB, maka universitas tidak mendapatkan bagi hasil atas uang pendaftaran tersebut sesuai porsi yang mereka harapkan.

Padahal, dengan ujian tersentralisir, maka akan diperoleh standar mutu pendidikan melalui standar ujian sehingga semua mahasiswa yang telah lulus SPMB memiliki standar kemampuan yang sama di seluruh Indonesia. Jangan sampai ada calon mahasiswa yang ‘tidak layak naik dari siswa menjadi mahasiswa’, tapi diterima sebagai mahasiswa.

Ujian Ebtanas atau yang sekarang UAN saja sudah cukup sebagai bukti penurunan kualitas kelulusan, mengingat jumlah pelajaran yang diujikan menciut jauh dibandingkan sebelumnya. Dengan UAN yang sudah ciut saja masih ada yang protes kok, minta standar kelulusan diturunkan. Apakabar peningkatan mutu pendidikan kalau begini?

Nah, cukup faktanya, sekarang masuk ke bagian opini.

Dengan keluar dari SPMB, gue mau bilang kalau para rektor itu ternyata tidak cukup bijak, mengorbankan calon mahasiswa demi penguasaan uang hasil pendaftaran.

Dengan keluar dari SPMB juga, berarti masing-masing universitas akan menerima mahasiswa semau-maunya, dengan standar ujian yang berbeda-beda, sehingga bukannya maju ke penyetaraan kemampuan mahasiswa diseluruh Indonesia, malah mundur ke jaman batu..sama kayak SD, SMP, atau SMA.

No Responses to “aksi memboikot SPMB (Koran Tempo, 13/03/08)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: